Reaksi Kamu Saat IPK Kamu Drop - Menjadi Lebih Pintar

Find us on Google Plus

ads

Hot

Post Top Ad

Your Ad Spot

Senin, 22 Mei 2017

Reaksi Kamu Saat IPK Kamu Drop

Jika saat SMA kamu selalu was-was dengan nilai raport, maka kini memasuki masa-masa kuliah kamu juga perlu lebih was was lagi pada IPKSudah menjadi rahasia umum jika banyak mahasiswa yang menggunakan segala jenis cara demi mendapatkan IPK tinggi. Karena tidak sedikit yang memiliki anggapan IPK sebagai penentu masa depan, sebagai jaminan mendapat pekerjaan khususnya. Ada 3 tipe mahasiswa pasca mengetahui nilai IPK masing-masing. 

Mahasiswa tipe 1: sedih, berlarut-larut, selalu menganggap IPK adalah segala-galanya, pesimis, 
stuck, menyesal berkelanjutan dan berujung pada keputusasaan. 

Mahasiswa tipe 2: masa bodoh, tidak peduli dengan kuliah, menganggap kemampuannya yang 
memang hanya “segitu” , masih ada semester depan. 

Mahasiswa tipe 3: merasa menyesal namun berusaha ikhlas, introspeksi, mencari solusi lain untuk memperbaiki, selalu optimis.

Jika diibaratkan ada 3 jenis mahasiswa, maka jadilah mahasiswa ke-3. Apapun hasilnya harus kita terima. Beberapa masukan dibawah ini diharapkan dapat mengubah cara reaksi kamu saat menghadapi kenyataan nilai IPK yang drop.

1. IPK Tinggi Tanpa Softskill, bagaikan Masakan Tanpa Bumbu

IPK yang seperti roller coaster jangan lantas membuatmu seperti roller coaster pula dalam menjalani dunia perkuliahan. Ingatlah, tujuan utama kuliah bukan semata-mata untuk mendapatkan IPK, soft skill dan pengalaman-pengalaman lainnya juga diperlukan. Jika kuliah hanya untuk IPK, maka untuk apa diadakannya kegiatan-kegiatan diluar kuliah seperti UKM, organisasi, event, pelatihan, dll? dengan terus mengembangkan soft skill dan pengalaman justru suatu hari kamu yang akan dijadikan kandidat yang dicari perusahaan. 

2. Jika IPK tidak Bersahabat, Biarkan “Jiwa Pemimpin” Memimpinmu

Sudah bukan saatnya kamu terus-terusan menangisi IPK yang terjun bebas, sekarang saatnya kamu memperbanyak waktu untuk memperbaiki sistem belajar kamu atau memulai sesuatu yang bisa membawamu pada kesuksesan. Cobalah belajar kepemimpinan. Menjadi pemimpin tidak harus ada di organisasi kampus. Mulailah dari lingkup kecil seperti komunitas kecil yang kamu miliki. 

3. Ilmu yang Bermanfaat Jauh Lebih Penting dari Apapun

Jika kamu sudah berusaha semaksimal mungkin namun IPK masi segitu-segitu saja, maka jangan berkecil hati. Lihat ke belakang, coba renungkan sekejap seberapa besar waktu, tenaga, biaya, yang telah kamu keluarkan selama ini hanya untuk mendapatkan ilmu-ilmumu. Kuliah bukan hanya sekedar mencari nilai, jangan skelai-kali melupakan ilmu yang kalian dapatkan. Apabila IPK gagal menjadi simbol seberapa banyak ilmu yang kamu dapatkan selama kuliah, maka aplikasikan ilmu kamu menjadi hal yang lebih bermanfaat untuk dirimu dan orang-orang disekitarmu. 

4. Masih Ada Seribu Cara membuat Orang Tuamu Bahagia Selain IPK

Tidak dapat dipungkiri, melihat anak-anaknya sukses dan bahagia adalah sumber kebahagiaan setiap orangtua. Namun sekali lagi, kesuksesan seseorang tidak boleh hanya diukur dari seberapa nilai yang mereka dapatkan. Kuliah hanyalah gerbang menuju masa depan. Jalanmu masih panjang. Jika kamu gagal membuat bangga orangtuamu lewat IPK, maka bahagiakan mereka degan cara lain, sukses di usia muda misalnya. 

5. Reset Ulang Trik Belajarmu

Jika selama ini kamu masih suka bolos, melalaikan tugas, sistem belajar SKS (sistem kebut semalam) dan kamu mengharapkan nilai IPKmu tinggi, maka cobalah kamu menghadap cermin. Namun jika kamu sudah berusaha maksimal namun hasil tidak sesuai ekspektasi, coba ubahlah cara belajarmu. 
Menjadi mahasiswa memang pada faktanya tak seindah ketika masih menjadi anak SMA. Walaupun jam belajarnya yang tidak sepadat ketika masih di SMA, namun ternyata tidak menjamin menjadi mahasiswa adalah hal yang menyenangkan. Menjadi mahasiswa mengharuskan untuk belajar lebih banyak dan lebih mandiri. Apabila ketika di SMA semua materi sudah ada dalam pelajaan yang diberikan oleh guru, ketika di bangku kuliah, mahasiswa harus mandiri dalam mencari berbagai materi kuliah. Dosen hanya menyampaikan hal-hal yang dirasa penting, sedangkan mahasiswa harus mengembangkannya sendiri secara mandiri. Selain itu, bila ketika masih belajar di SMA semua buku mata pelajaran sudah tersedia dan dapat didapat dengan mudah, di bangku kuliah mahasiswa harus mencarinya sendiri ke toko-toko buku dan terkadang harganya sangat mahal. Ada juga beberapa buku penunjang materi kuliah yang langka dan sulit diperoleh, misalnya buku-buku lama yang sudah tidak dicetak lagi.

Selain masalah perkuliahan, menjadi mahasiswa khususnya mahasiswa rantau harus dapat menyiapkan segala sesuatunya secara mandiri. Mulai dari mengelola uang saku orang tua untuk membeli makan, membeli segala kebutuhan hidup, hingga untuk ditabung. Mengelola uang bukanlah hal yang mudah, apalagi ketika pengeluaran bulanan membengkak karena harus membeli buku. Mahasiswa yang merantau tidak bisa begitu saja meminta uang dari orang tua, dan terkadang harus sabar menunggu hingga dikirim lagi oleh orang tua. Mahasiswa rantau harus dapat mengurus dirinya sendiri, mulai dari makan, kebersihan diri, belajar, hingga ibadah. Hidup jauh dari orang tua membuat mahasiswa rantau harus dapat mengelola diri sendiri, menjaga diri agar tidak terjerumus pada hal-hal yang tidak baik. Oleh karena itu, penting untuk memilih teman yang dapat saling mengingatkan.
Menjadi mahasiswa juga memiliki sisi keunikan tersendiri. Mahasiswa selalu dihadapkan pada banyak pilihan hidup, karena di masa ini adalah masa pencarian jati diri dan masa untuk menentukan masa depan. Setidaknya ada tiga hal yang laing ditunggu-tunggu oleh mahasiswa ketika kuliah:

1. Kiriman Uang Saku

Berada jauh dari orang tua tidak bisa membuat mahasiswa bisa seenaknya sendiri meminta uang saku dari orang tua. Bagi mahasiswa yang mendapat kiriman uang mingguan atau bulanan, terkadang uang habis sebelum waktunya. Maka tak jarang mahasiswa harus meminjam uang teman terlebih dahulu sebelum uang kiriman orang tua datang. Uang kiriman adalah hal yan ditunggu-tunggu oleh mahasiswa setiap minggu atau setiap bulan.

2. Liburan

Menjadi mahasiswa bukan berarti dapat santai-santai. menjadi mahasiswa justru sangat sibuk, karena harus mengerjakan tugas ini dan itu dari dosen. Belum lagi bila aktif di organisasi, maka harus dapat membagi waktu dengan baik. Oleh karena itu, banyak mahasiswa yang akhirnya jarang pulang kampung. Waktu liburan adalah waktu yang amat ditunggu oleh banyak mahasiswa, karena dapat pulang kampung dan beristirahat dari hiruk pikuk kehidupan kuliah yang melelahkan.

3. Wisuda

Wisuda menjadi akhir penanda dari masa kuliah. Setiap mahasiswa selalu menantikan waktu untuk diwisuda, karena tandanya mereka telah lulus dari bangku kuliah dan dapat bekerja. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post Top Ad

Your Ad Spot